UAN merupakan program pemerintah untuk dunia pendidikan. UAN mempunyai ketetapan standarisasi tersendiri, dengan konsekuensi penambahan nilai pada tiap tahunnya. sejauh ini UAN dianggap sebagai media yang paling vital dalam menetapkan standarisasi nilai-nilai pada SD,SMP, dan SMA. namun, tidak sedikit kasus-kasus yang menyatakan bahwa UAN selama ini berjalan secara kotor. mengapa demikian? apakah karena standar itu sendiri, atau gengsi sekolah-sekolah bila murid mereka banyak tidak lulus ? siswa-siswi selalu merasa syok bila mau menghadapi UAN. UAN seperti setan yang mengahantui mereka. kenapa kita tidak mengambil cara lama dengan mengadakan EBTANAS. menurut saya pribadi, dengan adanya standarisasi hanya melalui wilayah regional masing-masing saja sudah cukup. seluruh pihak yang terkait dalam proses UAN tidak perlu berbuat “licin” seperti sekarang ini. jika mereka selalu melakukan “hal tersebut” apa jadinya penerus generasi bangsa ini. belum lagi masalah alokasi pembiayaan UAN, walaupun sekarang dana pendidikan telah ditingkatkan menjadi 20% dari APBN tapi tetap saja pengalokasian harus tetap diawasi. Dan yang paling saya sorot dari kasus UAN adalah tidak sedikit murid berprestasi ditingkat regional, nasional, bahkan internasional tidak lulus UAN. sudahkah hal ini pernah direnungi? dan tidak sedikit pula murid “pintar” lulus dari UAN. Ironis memang, tapi inilah kenyataan. bagi saya dalam menjawab soal UAN, faktor keberuntugan meraih posisi pertama. karena UAN terdiri dari soal-soal pilihan ganda.
perbedaan presepsi tentang UAN memang masih sering didengar walaupun UAN tersebut sudah dilaksanakan. tergantung dari arah sudut pandang masing-masing. HIC_Tia’08
